Category: ideas & tips

Mengapa Gen Alpha Harus Belajar Mengendalikan AI, Bukan Dikendalikan AI

Tangerang, 22 Juli 2026 – Masa depan teknologi akan sangat ditentukan oleh bagaimana Generasi Alpha (lahir 2010 s.d 2025) berinteraksi dengan Kecerdasan Buatan (AI). Sebagai generasi pertama yang tumbuh berdampingan dengan algoritma sejak lahir, mereka memiliki tantangan unik. Mereka tidak boleh hanya menjadi pengguna pasif, melainkan harus menjadi pengendali utama di tengah perkembangan teknologi yang masif.

Inilah alasan mengapa Gen Alpha harus belajar mengendalikan AI demi menjaga kedaulatan diri mereka.

1. Menghindari Dominasi Algoritma dalam Berpikir

Dalam masa depan teknologi, algoritma akan semakin personal. Jika Gen Alpha hanya mengikuti rekomendasi mesin, ruang lingkup pemikiran mereka akan menyempit dalam filter bubble. Dengan belajar mengendalikan AI, mereka tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah dimanipulasi oleh informasi yang disaring secara otomatis oleh mesin.

2. AI sebagai Alat Pendukung Kreativitas

Meskipun AI mampu menghasilkan karya instan, orisinalitas tetap menjadi nilai tertinggi. Gen Alpha harus memahami bahwa AI hanyalah sebuah alat atau “asisten kreatif”. Mengendalikan AI berarti mampu memberikan instruksi (prompt) yang cerdas dan tetap menyisipkan empati serta etika manusiawi ke dalam setiap karya yang dihasilkan.

3. Persaingan Karir di Masa Depan Teknologi

Dunia kerja di masa depan akan mengeliminasi banyak pekerjaan rutin. Namun, peluang baru akan muncul bagi mereka yang memiliki literasi digital tingkat tinggi. Keahlian yang paling dicari dalam masa depan teknologi bukan lagi sekadar mengoperasikan komputer, melainkan kemampuan untuk mengaudit, mengelola, dan mengarahkan sistem AI untuk menyelesaikan masalah kompleks.

4. Etika dan Tanggung Jawab Digital

Tanpa kontrol manusia, AI bisa menyebarkan bias dan hoaks. Gen Alpha perlu dididik untuk menjadi navigator etis. Mengendalikan AI berarti memahami batasan moral dan memastikan teknologi digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk merugikan privasi atau hak asasi orang lain.

Kesimpulan

Menghadapi masa depan teknologi, Gen Alpha harus memegang kendali penuh atas setiap perangkat yang mereka gunakan. Dengan literasi AI yang kuat, mereka tidak akan menjadi bidak yang digerakkan oleh algoritma, melainkan menjadi arsitek yang membangun dunia digital yang lebih cerdas, kreatif, dan tetap memanusiakan manusia.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

Empati di Tempat Kerja Soft Skill yang Sering Diremehkan tapi Krusial

Tangerang, 21 Juli 2026 – Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu benar-benar merasa “didengar” oleh atasan atau rekan kerja? Bukan sekadar didengar secara harfiah, tapi dipahami dari sisi perasaan dan situasi yang kamu alami. Kalau jawabannya “jarang”, kamu nggak sendirian. Empati adalah salah satu soft skill yang paling sering disebut penting, tapi paling jarang benar-benar dipraktikkan di dunia kerja.

Padahal, di tengah dunia kerja yang makin kompetitif dan penuh tekanan, empati justru menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah sebuah tim bisa bertahan lama, produktif, dan sehat secara mental. Yuk, kita bahas kenapa empati layak naik kelas dari “skill pelengkap” jadi “skill wajib”.

Apa Itu Empati di Tempat Kerja?

Empati di tempat kerja bukan sekadar bersikap baik atau mengiyakan semua keluhan rekan kerja. Empati adalah kemampuan untuk memahami perspektif, perasaan, dan kondisi orang lain, lalu meresponsnya dengan cara yang tepat, bukan cuma simpatik di permukaan.

Ada dua jenis empati yang relevan di lingkungan kerja:

  • Empati kognitif, yaitu kemampuan memahami sudut pandang orang lain secara rasional. Misalnya, memahami kenapa rekan kerja terlihat lelah karena beban kerja yang menumpuk.
  • Empati afektif, yaitu kemampuan ikut merasakan emosi orang lain tanpa harus larut di dalamnya. Misalnya, ikut merasa cemas saat melihat tim menghadapi deadline ketat, lalu menawarkan bantuan konkret.

Kombinasi keduanya membuat seseorang bisa merespons situasi dengan bijak, bukan sekadar bereaksi.

Kenapa Empati Sering Diremehkan?

Banyak orang menganggap empati sebagai sesuatu yang “nice to have”, bukan kebutuhan utama. Ada beberapa alasan kenapa ini terjadi:

  1. Dianggap tidak terukur. Berbeda dengan target penjualan atau KPI, empati sulit diukur dengan angka sehingga sering dianggap kurang penting dibanding hard skill.
  2. Disalahartikan sebagai kelemahan. Di sejumlah budaya kerja, bersikap empatik masih dianggap identik dengan lemah, terlalu perasa, atau kurang tegas.
  3. Fokus berlebihan pada hasil. Banyak perusahaan lebih mengutamakan output dan efisiensi, sehingga proses memahami kondisi tim jadi nomor sekian.
  4. Minim contoh nyata dari atasan. Kalau pemimpin sendiri jarang menunjukkan empati, karyawan pun sulit menjadikannya kebiasaan.

Padahal, riset di bidang psikologi organisasi berulang kali menunjukkan bahwa tim dengan tingkat empati tinggi cenderung memiliki komunikasi yang lebih terbuka dan tingkat kepercayaan yang lebih kuat antaranggota.

Kenapa Empati Itu Krusial, Bukan Sekadar Pelengkap

1. Membangun Kepercayaan Tim

Empati membuat orang merasa aman untuk bersuara, termasuk saat melakukan kesalahan. Tim yang saling percaya lebih berani mengambil risiko, berinovasi, dan memberi feedback jujur tanpa takut dihakimi.

2. Menurunkan Tingkat Burnout

Karyawan yang merasa dipahami cenderung lebih tahan terhadap tekanan kerja. Sebaliknya, lingkungan kerja yang minim empati sering memperparah stres karena karyawan merasa sendirian menghadapi masalah.

3. Meningkatkan Kualitas Kepemimpinan

Pemimpin yang empatik lebih mudah membaca kebutuhan timnya, baik dari sisi beban kerja, motivasi, maupun kondisi personal. Ini membuat keputusan yang diambil lebih tepat sasaran dan manusiawi.

4. Mendorong Kolaborasi Lintas Generasi

Di tempat kerja saat ini, Gen Z, Milenial, hingga Gen X bekerja dalam satu tim. Empati menjadi jembatan yang membantu berbagai generasi ini saling memahami cara kerja, komunikasi, dan nilai masing-masing tanpa saling menghakimi.

5. Meningkatkan Kepuasan dan Loyalitas Karyawan

Karyawan yang merasa dipahami oleh atasan dan rekan kerja cenderung lebih betah dan loyal, sehingga menekan angka turnover yang biasanya memakan biaya besar bagi perusahaan.

Cara Melatih Empati di Tempat Kerja

Kabar baiknya, empati bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki sebagian orang. Empati bisa dilatih dengan kebiasaan sederhana berikut:

  • Praktikkan active listening. Dengarkan rekan kerja tanpa buru-buru memotong atau menyiapkan jawaban sebelum mereka selesai bicara.
  • Tahan diri untuk tidak langsung menghakimi. Sebelum menilai sikap atau kinerja seseorang, coba cari tahu dulu apa yang sedang mereka hadapi.
  • Ajukan pertanyaan terbuka. Alih-alih bertanya “kamu kenapa?”, coba tanyakan “ada yang bisa aku bantu?” agar orang lain merasa lebih nyaman bercerita.
  • Perhatikan bahasa tubuh dan nada bicara. Banyak hal yang tidak terucap lewat kata-kata, tapi terlihat dari ekspresi dan intonasi.
  • Beri ruang, bukan solusi instan. Kadang orang hanya butuh didengar, bukan langsung diberi solusi atau nasihat.
  • Refleksi diri secara rutin. Coba evaluasi kembali cara kamu merespons situasi sulit rekan kerja, apakah sudah cukup memahami posisi mereka atau belum.
Empati Bukan Berarti Lembek

Penting untuk diluruskan, empati bukan berarti selalu mengalah, menghindari konflik, atau membenarkan semua alasan. Empati yang sehat tetap berjalan beriringan dengan ketegasan. Kamu tetap bisa memberi feedback kritis atau menegakkan aturan, asal dilakukan dengan cara yang menghargai perasaan orang lain.

Justru pemimpin dan rekan kerja yang punya empati tinggi biasanya lebih dihormati karena mereka tegas tanpa harus kasar, dan jujur tanpa harus menyakiti.

Penutup

Di tengah dunia kerja yang serba cepat dan menuntut hasil instan, empati sering terlupakan padahal dampaknya panjang. Tim yang empatik lebih solid, lebih tahan banting, dan lebih nyaman untuk bertumbuh bersama.

Jadi, mulai sekarang, jangan anggap empati sebagai soft skill kelas dua. Latih empati sama seriusnya seperti kamu melatih hard skill lain, karena pada akhirnya, cara kamu memperlakukan orang lain di tempat kerja ikut menentukan seberapa jauh kariermu bisa melangkah.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

52 Mahasiswa Sosiologi Dinyatakan Kompeten dalam Skema Pendamping Manajemen Operasi UMKM Berbasis Digital

JAKARTA – Program Studi Sosiologi Universitas Nasional (UNAS) terus memperkuat kualitas lulusannya dengan membekali keahlian standar nasional. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, sebanyak 52 mahasiswa Jurusan Sosiologi mengikuti uji kompetensi skema Pelaksanaan Pendampingan Manajemen Operasi UMKM Berbasis Digital. Hasilnya, seluruh peserta yang berjumlah 52 mahasiswa dinyatakan kompeten dalam Sertifikasi BNSP tersebut.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama strategis antara UNAS dengan LSP P1 LPK GETI (Global Edukasi Talenta Inkubator). Sinergi ini bertujuan untuk melahirkan sosiolog muda yang memiliki kemampuan teknis dalam mendampingi pelaku usaha di ekosistem digital.

Pentingnya Sertifikasi BNSP bagi Mahasiswa Sosiologi

Di era industri 4.0, pengakuan kompetensi melalui Sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) menjadi instrumen penting bagi mahasiswa. Bagi mahasiswa Sosiologi, sertifikasi ini bukan sekadar tambahan portofolio, melainkan bukti valid bahwa mereka mampu menerapkan analisis sosial dalam manajemen operasional UMKM.

Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Nasional mengungkapkan bahwa pencapaian 100% peserta yang dinyatakan kompeten merupakan bukti kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang dinamis.

Fokus Kompetensi dalam Sertifikasi BNSP Pendamping UMKM

Dalam proses asesmen Sertifikasi BNSP ini, mahasiswa diuji dalam berbagai aspek manajemen operasi berbasis digital. Mulai dari perencanaan pendampingan, digitalisasi pemasaran, hingga pengelolaan administrasi bisnis UMKM. Keahlian ini sangat relevan dengan peran mahasiswa Sosiologi sebagai agen pemberdayaan masyarakat.

Pihak GETI sebagai mitra pelaksana menekankan bahwa standar kompetensi yang diraih mahasiswa telah memenuhi kualifikasi nasional. Hal ini memastikan bahwa 52 mahasiswa tersebut memiliki kapabilitas yang teruji untuk membantu UMKM “naik kelas” melalui optimalisasi teknologi digital.

Kontribusi Nyata Mahasiswa untuk Ekonomi Nasional

Pasca dinyatakan kompeten, para mahasiswa ini diharapkan dapat berkontribusi langsung dalam mendampingi para pelaku usaha lokal. Ilmu sosiologi yang mereka miliki menjadi modal kuat untuk melakukan pendekatan yang persuasif dan tepat sasaran kepada komunitas pelaku usaha.

Kegiatan yang berlangsung intensif hingga sore hari ini ditutup dengan sesi refleksi dan pengumuman hasil akhir asesmen. Dengan hasil membanggakan ini, Jurusan Sosiologi UNAS kembali menegaskan posisinya sebagai lembaga pendidikan yang sukses memadukan teori sosial dengan keahlian digital yang diakui negara.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

Apa Itu Critical Thinking dan Mengapa Semakin Penting di Era AI?

Tangerang, 06 Juli 2026 – Kehadiran Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Gemini, dan Midjourney telah mengubah cara kita bekerja dan mencari informasi. Di saat AI mampu menjawab pertanyaan apa pun dalam hitungan detik, muncul sebuah pertanyaan besar: Apakah kemampuan berpikir manusia masih relevan?

Jawabannya adalah: Ya, bahkan jauh lebih penting dari sebelumnya. Kemampuan tersebut adalah Critical Thinking atau berpikir kritis.

Apa Itu Critical Thinking?

Secara sederhana, critical thinking adalah kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif, mengevaluasi bukti, mempertanyakan asumsi, dan membuat keputusan atau kesimpulan yang logis.

Berpikir kritis bukan berarti bersikap skeptis terhadap segala hal atau suka mendebat, melainkan sebuah proses berpikir yang disiplin untuk memastikan bahwa informasi yang kita terima atau keputusan yang kita ambil memiliki landasan yang kuat.

Mengapa Critical Thinking Semakin Penting di Era AI?

Meskipun AI sangat cepat dan efisien, ada beberapa alasan mengapa berpikir kritis menjadi “perisai” dan “pedang” utama bagi manusia saat ini:

1. Menghadapi Halusinasi AI dan Misinformasi
AI bekerja berdasarkan pola data, bukan pemahaman mendalam tentang kebenaran. Terkadang, AI mengalami “halusinasi”—yaitu memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan tetapi sebenarnya salah atau fiktif. Tanpa critical thinking, kita akan mentah-mentah menerima informasi salah yang diproduksi oleh mesin.

2. Kemampuan Membuat Prompt yang Berkualitas (Prompt Engineering)
Untuk mendapatkan hasil terbaik dari AI, manusia harus tahu cara bertanya yang tepat. Kemampuan menyusun instruksi (prompt) yang mendalam, terstruktur, dan strategis memerlukan daya analisis yang tinggi. AI hanyalah cermin dari kualitas pikiran penggunanya.

3. Memahami Konteks dan Etika
AI tidak memiliki kompas moral atau perasaan. Ia bisa memberikan solusi teknis, tetapi tidak bisa mempertimbangkan dampak etis, budaya, atau perasaan manusia di balik sebuah keputusan. Berpikir kritis memungkinkan kita untuk meninjau apakah hasil yang diberikan AI sudah sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks spesifik yang ada.

4. Mengatasi Bias Data
AI dilatih menggunakan data dari internet yang seringkali mengandung bias (prasangka). Jika kita tidak kritis, kita bisa tanpa sadar memperkuat prasangka tersebut dalam pekerjaan kita. Manusia dibutuhkan untuk mengidentifikasi, mempertanyakan, dan menetralisir bias yang mungkin dihasilkan oleh algoritma.

5. Pemecahan Masalah yang Kompleks
AI sangat hebat dalam menangani tugas yang bersifat repetitif dan berbasis data. Namun, untuk masalah yang bersifat ambigu, baru, dan membutuhkan kreativitas serta intuisi, critical thinking manusia tetap tidak tergantikan. Kita menggunakan AI sebagai alat, tetapi manusialah yang memegang kendali strateginya.

Cara Mengasah Critical Thinking di Era Digital

Bagaimana cara kita tetap tajam di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi?

  • Jangan langsung percaya: Selalu verifikasi data dari AI dengan sumber otoritas lain.

  • Tanyakan “Mengapa” dan “Bagaimana”: Jangan hanya mencari jawaban instan, pahami proses di baliknya.

  • Cari sudut pandang berbeda: Gunakan AI untuk menyajikan argumen yang berlawanan dengan pemikiran Anda untuk memperluas perspektif.

  • Latih refleksi diri: Sadari bias pribadi Anda saat memproses informasi dari internet.

Kesimpulan

Di era AI, pengetahuan bukan lagi komoditas yang langka karena mesin bisa menyediakannya. Yang menjadi langka dan berharga adalah kemampuan untuk memproses pengetahuan tersebut secara bijak. AI adalah asisten yang luar biasa, tetapi critical thinking adalah nakhoda yang memastikan kita tetap menuju arah yang benar.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

Belajar Bahasa Jepang Dasar untuk Kebutuhan Kerja dan Magang

Tangerang, 01 Juli 2026 – Belajar Bahasa Jepang Dasar untuk Kerja menjadi bekal penting bagi siapa saja yang ingin bekerja atau mengikuti program magang di Jepang. Kemampuan ini tidak hanya membantu saat proses seleksi dan wawancara, tetapi juga memudahkan peserta dalam memahami instruksi, berkomunikasi dengan atasan, serta menyesuaikan diri dengan budaya kerja Jepang yang disiplin dan profesional.

Namun, salah satu tantangan terbesar sebelum berangkat adalah kemampuan berbahasa Jepang. Meskipun beberapa perusahaan menyediakan pelatihan, memiliki kemampuan bahasa Jepang dasar akan menjadi nilai tambah yang sangat besar saat proses seleksi maupun ketika mulai bekerja.

Artikel ini membahas dasar-dasar bahasa Jepang yang wajib dipelajari bagi calon peserta kerja maupun magang di Jepang.

Mengapa Harus Belajar Bahasa Jepang?

Menguasai bahasa Jepang memberikan banyak keuntungan, di antaranya:

  • Mempermudah proses wawancara kerja atau magang.
  • Lebih mudah memahami instruksi dari atasan.
  • Meningkatkan peluang diterima perusahaan Jepang.
  • Membantu beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.
  • Menunjukkan keseriusan dan profesionalisme kepada perusahaan.

Bahkan untuk level dasar seperti JLPT N5, kemampuan berbahasa Jepang sudah menjadi nilai tambah dibanding pelamar lain.

Salam Dasar Bahasa Jepang

Percakapan sehari-hari selalu diawali dengan salam. Berikut beberapa ungkapan yang paling sering digunakan.

Bahasa Jepang Romaji Arti
おはようございます Ohayou gozaimasu Selamat pagi
こんにちは Konnichiwa Selamat siang
こんばんは Konbanwa Selamat malam
お疲れ様です Otsukaresama desu Terima kasih atas kerja kerasnya
ありがとうございます Arigatou gozaimasu Terima kasih
すみません Sumimasen Permisi / Maaf

“Otsukaresama desu” merupakan ungkapan yang sangat sering digunakan di lingkungan kerja Jepang sebagai bentuk penghargaan kepada rekan kerja.

Perkenalan Diri (Jikoshoukai)

Saat wawancara maupun hari pertama bekerja, Anda biasanya diminta memperkenalkan diri.

Contoh sederhana:

はじめまして。

(Hajimemashite.)

Perkenalkan.

私の名前は Andi です。

(Watashi no namae wa Andi desu.)

Nama saya Andi.

インドネシアから来ました。

(Indonesia kara kimashita.)

Saya berasal dari Indonesia.

よろしくお願いします。

(Yoroshiku onegaishimasu.)

Mohon bimbingannya.

Kalimat sederhana ini sudah cukup untuk memberikan kesan sopan dan profesional.

Kosakata Penting di Tempat Kerja

Berikut beberapa kosakata yang sering digunakan.

Jepang Romaji Arti
会社 Kaisha Perusahaan
社員 Shain Karyawan
上司 Joushi Atasan
同僚 Douryou Rekan kerja
仕事 Shigoto Pekerjaan
会議 Kaigi Rapat
工場 Koujou Pabrik
作業 Sagyou Pekerjaan/Tugas
安全 Anzen Keselamatan
休憩 Kyuukei Istirahat

Ungkapan Penting Saat Bekerja

Beberapa kalimat berikut sering digunakan setiap hari.

  • はい (Hai) → Ya.
  • わかりました (Wakarimashita) → Saya mengerti.
  • もう一度お願いします (Mou ichido onegaishimasu) → Tolong ulangi sekali lagi.
  • 大丈夫です (Daijoubu desu) → Tidak masalah.
  • 手伝います (Tetsudaimasu) → Saya akan membantu.
  • 少し待ってください (Sukoshi matte kudasai) → Mohon tunggu sebentar.

Kemampuan memahami ungkapan sederhana ini akan membantu mengurangi kesalahan komunikasi saat bekerja.

Angka yang Wajib Dikuasai

Di tempat kerja, angka sering digunakan untuk menghitung barang, membaca jadwal, maupun memahami instruksi.

Angka Jepang
1 Ichi
2 Ni
3 San
4 Yon
5 Go
6 Roku
7 Nana
8 Hachi
9 Kyuu
10 Juu
Etika Berkomunikasi di Jepang

Bahasa Jepang tidak hanya tentang kosakata, tetapi juga tentang kesopanan.

Beberapa etika yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan bahasa yang sopan kepada atasan.
  • Biasakan mengucapkan salam ketika datang dan pulang kerja.
  • Dengarkan instruksi hingga selesai sebelum bertanya.
  • Jangan memotong pembicaraan orang lain.
  • Biasakan mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan.

Etika komunikasi merupakan bagian penting dari budaya kerja Jepang.

Tips Belajar Bahasa Jepang untuk Pemula

Agar proses belajar lebih efektif, lakukan beberapa langkah berikut:

  • Pelajari huruf Hiragana terlebih dahulu.
  • Hafalkan kosakata yang berkaitan dengan pekerjaan.
  • Latihan percakapan setiap hari.
  • Dengarkan audio atau video bahasa Jepang.
  • Ikuti kelas bahasa Jepang yang memiliki simulasi wawancara kerja.
  • Latihan membaca instruksi sederhana.
  • Konsisten belajar minimal 20–30 menit setiap hari.

Belajar sedikit tetapi rutin jauh lebih efektif dibanding belajar dalam waktu lama namun tidak konsisten.

Kesimpulan

Kemampuan bahasa Jepang dasar merupakan bekal penting bagi siapa saja yang ingin bekerja atau mengikuti program magang di Jepang. Dengan menguasai salam, perkenalan diri, kosakata kerja, angka, dan etika komunikasi, Anda akan lebih percaya diri menghadapi proses seleksi maupun menjalani aktivitas kerja sehari-hari.

Tidak perlu langsung mahir. Mulailah dari materi dasar, latih secara konsisten, dan tingkatkan kemampuan sedikit demi sedikit. Semakin baik kemampuan bahasa Jepang Anda, semakin besar peluang untuk sukses berkarier dan berkembang di lingkungan kerja Jepang.

FAQ

Apakah harus bisa bahasa Jepang sebelum mengikuti program magang?

Tidak selalu, tetapi kemampuan bahasa Jepang dasar akan meningkatkan peluang lolos seleksi dan memudahkan adaptasi saat bekerja.

Level JLPT berapa yang cocok untuk pemula?

JLPT N5 merupakan level dasar yang cocok bagi calon peserta kerja atau magang.

Berapa lama belajar bahasa Jepang dasar?

Dengan belajar rutin 30 menit setiap hari, materi dasar umumnya dapat dikuasai dalam waktu 3–6 bulan, tergantung intensitas latihan.

Apa materi pertama yang harus dipelajari?

Mulailah dari Hiragana, salam sehari-hari, perkenalan diri, angka, dan kosakata yang berkaitan dengan pekerjaan.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

Tingkatkan Daya Saing Lulusan, 62 Mahasiswa Sosiologi UNAS Ikuti Sertifikasi Kompetensi Digital Bersama LPK GETI

Jakarta, 29 Juni 2026 – Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Nasional (UNAS) kini mulai merambah dunia digital. Sebanyak 62 mahasiswa mengikuti pelatihan Digital Marketing Sosiologi UNAS pada Senin (29/06/2026). Kegiatan ini berlangsung di Gedung C Kampus UNAS, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara Prodi Sosiologi UNAS dengan LPK Global Edukasi Talenta Inkubator (GETI). Selain itu, acara ini bertujuan untuk mempersiapkan lulusan yang kompeten di era transformasi digital. Dengan demikian, mahasiswa memiliki bekal yang kuat untuk bersaing di dunia kerja.

Sinergi Akademik dan Industri di Pasar Minggu

Acara ini dibuka secara resmi oleh Nursatyo, S.Sos., M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang AKA FISIP UNAS. Selain itu, hadir pula Dr. Andi Achdian, M.Si. selaku Ketua Program Studi Sosiologi. Pimpinan fakultas memberikan dukungan penuh terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa ini.

Nursatyo menyampaikan bahwa kerja sama dengan LPK GETI sangatlah strategis. “Kami mendorong mahasiswa agar memiliki keahlian aplikatif. Oleh karena itu, kolaborasi ini menghadirkan pelatihan Digital Marketing Sosiologi UNAS dan sertifikasi profesi,” ujarnya.

Beliau juga berharap pengalaman ini dapat memperluas wawasan mahasiswa. Dengan begitu, lulusan UNAS bisa menjadi agen perubahan yang nyata di masyarakat digital.

Pelatihan Sertifikasi BNSP dan Content Creator

Dalam program ini, mahasiswa mengikuti tiga bidang pelatihan utama. Bidang tersebut meliputi Digital Marketing, Pendamping UMKM, dan Content Creator.

Khusus untuk bidang Digital Marketing Sosiologi UNAS dan Pendamping UMKM, peserta mendapatkan persiapan khusus. Mereka akan mengikuti Uji Kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Hal ini penting agar mahasiswa memperoleh pengakuan kompetensi yang sah secara nasional.

Sementara itu, kelas Content Creator memberikan bekal mengenai strategi konten kreatif. Mahasiswa belajar memproduksi konten digital serta mengoptimalkan berbagai platform media sosial secara efektif.

Relevansi Ilmu Sosiologi di Era Digital

General Manager LPK GETI, Rachmat Wirasena Suryo, bertindak sebagai pemateri utama. Beliau menjelaskan bahwa ilmu digital kini merambah ke seluruh bidang.

“Banyak yang bertanya apa hubungan sosiologi dengan pemasaran digital. Padahal, ilmu Digital Marketing Sosiologi UNAS akan sangat berguna untuk mengampanyekan isu-isu sosial,” jelas Rachmat.

Menurutnya, keahlian ini sangat dibutuhkan di berbagai sektor. Contohnya adalah di NGO, instansi pemerintahan, hingga program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Oleh sebab itu, kemampuan memahami masyarakat akan lebih bernilai jika dipadukan dengan keterampilan digital.

Sebagai kesimpulan, sinergi antara universitas dan industri ini diharapkan terus berlanjut. Melalui bekal yang tepat, mahasiswa UNAS Pasar Minggu siap menghadapi tantangan transformasi digital Indonesia.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

88 Mahasiswa FEB ITSM Jember Tuntaskan Sertifikasi BNSP Bersama LSP GeTI

JEMBER – Sebanyak 88 mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Institut Teknologi dan Sains Mandala (ITSM) Jember menjalani proses sertifikasi kompetensi BNSP untuk Skema Digital Marketing yang diselenggarakan bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) GeTI. Kegiatan tersebut berlangsung di kampus ITSM Jember pada 27-28 Juni 2026.

Sertifikasi ini merupakan bagian dari langkah kampus dalam membekali mahasiswanya dengan kompetensi pemasaran digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, sektor industri, maupun wirausaha. Dengan mengacu pada standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), para peserta tidak sekadar mendapatkan penguatan materi di ruang kuliah, melainkan juga pengakuan kompetensi yang berlaku secara nasional.

Dekan FEB ITSM Jember, Dr. Agustin Hari Prastyowati, mengungkapkan bahwa kolaborasi antara fakultasnya dengan LSP GeTI menjadi salah satu strategi utama untuk mendongkrak daya saing para lulusan ke depannya.

Menurut Dr. Agustin, kerja sama ini dirancang agar mahasiswa unggul bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga memperoleh pengakuan keahlian resmi lewat sertifikasi BNSP. Ia berharap kemitraan tersebut bisa terus berlanjut dan memberi nilai tambah nyata bagi para lulusan agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja, industri, dan kewirausahaan di era digital.

General Manager GeTI sekaligus Ketua LSP GeTI, Rachmat Wirasena Suryo, turut menyampaikan apresiasinya terhadap terjalinnya kerja sama dengan ITSM Jember. Baginya, sertifikasi Skema Digital Marketing menjadi bekal penting yang akan menunjang mahasiswa FEB saat terjun ke dunia profesional.

Rachmat menyatakan rasa senangnya bisa berkolaborasi dengan ITSM Jember, dan berharap sertifikasi ini mampu mempersiapkan mahasiswa agar lebih matang dan sukses di dunia kerja. Ia juga mendorong para mahasiswa untuk terus belajar dan mengasah kompetensi, mengingat dunia kerja saat ini menuntut lulusan yang adaptif, kompeten, dan memiliki pengakuan keahlian yang jelas.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

Kegiatan sertifikasi ini sekaligus menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengukur kemampuan mereka di bidang digital marketing berdasarkan standar kompetensi yang berlaku. Melalui proses asesmen tersebut, mahasiswa diharapkan semakin menyadari pentingnya kompetensi praktis yang selaras dengan kebutuhan industri, terutama di tengah pesatnya perkembangan bisnis digital.

Lewat kemitraan ini, FEB ITSM Jember dan LSP GeTI berkomitmen untuk terus mencetak lulusan yang tak hanya kaya wawasan akademik, tetapi juga memiliki kompetensi terukur yang dapat menopang karier mereka di masa mendatang.

Sumber: GETI Media (getimedia.id)

Cara Memanfaatkan AI untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja Sehari-hari

Tangerang, 27 Juni 2026 – Di era digital yang bergerak sangat cepat, istilah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan. Banyak orang khawatir AI akan menggantikan pekerjaan manusia, namun kenyataannya, AI justru hadir sebagai “asisten pribadi” yang mampu melipatgandakan produktivitas jika digunakan dengan tepat.

Lalu, bagaimana cara nyata memanfaatkan AI untuk membuat alur kerja Anda lebih efisien? Berikut adalah panduan praktisnya.

1. Mengotomatiskan Penulisan dan Korespondensi

Salah satu pemakan waktu terbesar dalam bekerja adalah menyusun email, laporan, atau konten kreatif. Alat AI generatif seperti ChatGPT, Claude, atau Google Gemini dapat membantu Anda:

  • Membuat draf email profesional dalam hitungan detik.

  • Merangkum dokumen panjang menjadi poin-poin penting.

  • Memperbaiki tata bahasa dan nada bicara (tone) agar lebih sesuai dengan audiens.

2. Manajemen Jadwal dan Waktu yang Cerdas

Sering merasa kewalahan dengan kalender yang penuh? AI dapat membantu mengelola waktu Anda secara otomatis. Aplikasi seperti Motion atau Reclaim.ai menggunakan algoritma untuk:

  • Menyusun ulang jadwal secara otomatis jika ada rapat mendadak.

  • Menemukan waktu terbaik untuk fokus kerja (deep work) tanpa gangguan.

  • Sinkronisasi tugas harian langsung ke dalam kalender.

3. Notulensi Rapat Otomatis

Menghabiskan waktu untuk mencatat saat rapat sering kali membuat kita tidak fokus pada diskusi. Gunakan alat transkripsi berbasis AI seperti Otter.ai, Fireflies, atau fitur AI di Microsoft Teams/Zoom.

  • AI akan merekam dan mengubah suara menjadi teks secara real-time.

  • Fitur ringkasan akan merangkum keputusan penting dan daftar tindakan (action items) yang harus dilakukan setelah rapat selesai.

4. Riset Cepat dan Analisis Data

Dulu, riset membutuhkan waktu berjam-jam menjelajahi mesin pencari. Sekarang, alat seperti Perplexity AI atau Consensus memungkinkan Anda mendapatkan jawaban akurat yang didukung oleh sumber terpercaya secara instan. Bagi Anda yang bekerja dengan data, AI di dalam Excel atau Google Sheets dapat membantu membuat rumus kompleks atau visualisasi data hanya melalui perintah teks sederhana.

5. Mempercepat Proses Desain dan Presentasi

Membuat presentasi yang menarik sering kali memakan waktu seharian. Dengan alat seperti Canva Magic Studio atau Gamma.app, Anda cukup memasukkan topik atau draf kasar, dan AI akan membuatkan slide presentasi yang estetis lengkap dengan gambar dan tata letak yang profesional.

Tips Memulai Integrasi AI dalam Pekerjaan

Agar penggunaan AI memberikan hasil maksimal, terapkan prinsip-prinsip berikut:

  1. Gunakan Prompt yang Spesifik: Semakin detail instruksi yang Anda berikan kepada AI, semakin akurat hasil yang didapatkan.
  2. Verifikasi Hasilnya: Jangan menelan mentah-mentah hasil dari AI. Selalu lakukan pengecekan ulang (fact-checking) karena AI terkadang bisa melakukan kesalahan (halusinasi).
  3. Jaga Privasi Data: Hindari memasukkan data rahasia perusahaan atau informasi pribadi yang sensitif ke dalam platform AI publik.
Kesimpulan

Memanfaatkan AI bukan berarti menyerahkan semua pekerjaan kepada mesin, melainkan menggunakan teknologi untuk menangani tugas-tugas repetitif sehingga Anda memiliki lebih banyak waktu untuk tugas strategis dan kreatif. Mulailah dengan satu atau dua alat AI hari ini, dan rasakan bagaimana produktivitas Anda meningkat pesat.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

Kenapa Gen Z dan Milenial Wajib Terus Belajar Hal Baru di 2026 ?

Tangerang, 24 Juni 2026 – Memasuki tahun 2026, dunia kerja bukan lagi tempat yang sama seperti tiga atau lima tahun lalu. Jika dulu ijazah sarjana bisa menjamin karier aman selama satu dekade, sekarang ceritanya berbeda. Bagi Gen Z dan Milenial, istilah “lifelong learning” bukan lagi sekadar jargon motivasi, melainkan strategi bertahan hidup.

Kenapa kita tidak bisa lagi bersantai dengan skill yang kita punya sekarang? Mari kita bedah data dan realita yang akan mendominasi tahun 2026.

1. Masa Kedaluwarsa Skill Semakin Pendek

Menurut riset dari World Economic Forum (WEF), “masa paruh” (half-life) sebuah keterampilan kini rata-rata hanya berkisar 5 tahun. Artinya, apa yang kamu pelajari dengan susah payah di bangku kuliah tahun 2021, kemungkinan besar sudah tidak relevan lagi di tahun 2026.

Di tahun 2026, teknologi seperti AI generatif, robotika canggih, dan komputasi kuantum telah terintegrasi penuh dalam operasional bisnis. Jika kamu berhenti belajar setelah lulus, kamu sedang membiarkan dirimu “kedaluwarsa” secara profesional.

2. Data: 40% Pekerja Harus Reskilling dalam Waktu Dekat

Data terbaru menunjukkan bahwa hampir 40% dari tenaga kerja global perlu melakukan reskilling (belajar keterampilan baru sama sekali) karena adopsi teknologi AI dan otomasi.

Bagi Milenial yang kini berada di posisi manajerial, tantangannya adalah memimpin tim yang menggunakan alat-alat yang mungkin belum pernah ada saat mereka mulai bekerja. Sementara bagi Gen Z, persaingan bukan lagi hanya antar sesama manusia, melainkan bagaimana menunjukkan nilai tambah di atas kemampuan AI.

3. Munculnya “Hybrid Roles” yang Tidak Terduga

Di tahun 2026, kotak-kotak pekerjaan menjadi semakin kabur. Seorang desainer grafis kini wajib paham prompt engineering. Seorang akuntan wajib mengerti data analytics.

Pasar kerja tahun 2026 lebih menghargai profil “T-Shaped”: memiliki satu keahlian mendalam, namun memiliki pemahaman luas di berbagai bidang lainnya. Tanpa kemauan belajar hal baru, kamu akan terjebak dalam silo yang sempit dan rentan tergantikan.

4. Ekonomi Gig dan Freelance yang Semakin Kompetitif

Semakin banyak Milenial dan Gen Z memilih jalur freelance atau side hustle. Namun, data menunjukkan bahwa platform kerja global di tahun 2026 dipenuhi oleh talenta dari seluruh dunia.

Untuk tetap memiliki daya tawar tinggi (bargaining power), kamu tidak bisa hanya mengandalkan portofolio lama. Klien di tahun 2026 mencari orang yang paling adaptif terhadap tren terbaru, bukan yang paling senior namun kaku.

5. Soft Skills adalah “Hard Skills” yang Baru

Data dari berbagai survei SDM global menekankan bahwa ketika teknis bisa dilakukan oleh mesin, kemampuan manusia yang murni—seperti kecerdasan emosional (EQ), berpikir kritis, dan negosiasi—menjadi sangat mahal harganya.

Belajar hal baru di tahun 2026 bukan hanya soal teknis atau coding, tapi juga belajar bagaimana menjadi manusia yang lebih komunikatif dan solutif di tengah dunia yang serba otomatis.

Bagaimana Cara Memulainya Tanpa Burnout?

Jangan membayangkan belajar sebagai sekolah formal yang membosankan. Gunakan pendekatan 2026:

  • Micro-learning: Belajar lewat video pendek atau kursus modul kecil selama 15 menit sehari.
  • AI sebagai Mentor: Gunakan AI untuk merangkum buku atau menjelaskan konsep sulit dengan cepat.
  • Curiosity-Driven: Ikuti rasa penasaranmu, meskipun itu di luar bidang pekerjaanmu saat ini.
Kesimpulan

Tahun 2026 adalah tahun di mana adaptabilitas adalah mata uang baru. Data sudah berbicara: mereka yang berhenti belajar akan tertinggal oleh algoritma dan kompetisi global. Jadi, jangan biarkan dirimu terlalu nyaman. Luangkan waktu hari ini untuk mempelajari satu hal baru, karena masa depan tidak menunggu siapa pun.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai

Cara Membuat Konten Digital yang Meningkatkan Brand Awareness

Tangerang, 22 Juni 2026 – Di era digital yang serba cepat ini, perhatian audiens adalah mata uang yang paling berharga. Bagi sebuah bisnis, dikenal oleh masyarakat luas (brand awareness) adalah langkah pertama sebelum mencapai tahap penjualan. Namun, dengan jutaan konten yang diunggah setiap harinya, bagaimana cara agar konten Anda tetap menonjol?

Berikut adalah panduan lengkap strategi membuat konten digital yang mampu meningkatkan brand awareness secara signifikan.

1. Pahami Audiens Target Anda secara Mendalam

Sebelum membuat satu baris teks atau desain, Anda harus tahu untuk siapa konten tersebut dibuat. Konten yang terlalu umum seringkali berakhir tidak menarik bagi siapa pun.

  • Buat Buyer Persona: Siapa mereka? Apa masalah yang mereka hadapi? Media sosial apa yang mereka gunakan?

  • Gunakan Bahasa Mereka: Gunakan istilah atau gaya bahasa yang relevan dengan kelompok usia atau minat mereka.

2. Tentukan Identitas Visual dan Tone of Voice yang Konsisten

Agar audiens mengenali brand Anda hanya dalam sekali lirik, konsistensi adalah kunci.

  • Visual: Gunakan palet warna, jenis font, dan gaya desain yang seragam di semua platform (Instagram, TikTok, Website).

  • Tone of Voice: Apakah brand Anda ingin terlihat profesional, humoris, atau inspiratif? Pastikan cara Anda “berbicara” di kolom caption tetap konsisten.

3. Fokus pada Narasi (Storytelling)

Manusia lebih mudah mengingat cerita daripada data atau promosi langsung. Alih-alih hanya menjual produk, ceritakanlah:

  • Di balik layar (behind the scenes) pembuatan produk.

  • Nilai-nilai atau misi yang diusung oleh brand Anda.

  • Testimoni pelanggan yang merasa terbantu oleh solusi Anda.

4. Manfaatkan Berbagai Format Konten

Jangan terpaku pada satu format saja. Algoritma platform digital menyukai variasi:

  • Video Pendek (Reels/TikTok): Sangat efektif untuk menjangkau audiens baru secara organik (viralitas tinggi).

  • Infografis: Cocok untuk konten edukasi yang mudah dibagikan (shareable).

  • Blog/Artikel SEO: Membangun otoritas dan kepercayaan dalam jangka panjang melalui mesin pencari seperti Google.

5. Gunakan Tren Secara Bijak

Mengikuti tren yang sedang viral (seperti musik yang sedang hits atau tantangan tertentu) bisa meningkatkan visibilitas secara instan. Namun, pastikan tren tersebut tetap relevan dengan identitas brand Anda. Jangan memaksakan tren jika itu merusak citra brand yang ingin Anda bangun.

6. Optimasi SEO (Search Engine Optimization)

Agar konten Anda ditemukan oleh orang yang tepat, gunakan kata kunci yang relevan. Jika Anda membuat konten di YouTube atau Blog, pastikan judul, deskripsi, dan tag mengandung kata kunci yang sering dicari oleh audiens target Anda.

7. Interaksi dan Keterlibatan (Engagement)

Brand awareness bukan komunikasi satu arah. Balaslah komentar, jawab pertanyaan melalui DM, dan buatlah jajak pendapat (polling) di Stories. Semakin tinggi interaksi, semakin besar kemungkinan konten Anda didorong oleh algoritma ke audiens yang lebih luas.

8. Kolaborasi dengan Influencer atau Brand Lain

Bekerja sama dengan orang yang sudah memiliki basis massa yang loyal dapat memberikan “panggung” instan bagi brand Anda. Pilih influencer yang memiliki nilai (values) yang sama dengan bisnis Anda agar pesan yang disampaikan terasa otentik.

Kesimpulan

Meningkatkan brand awareness melalui konten digital bukanlah proses semalam. Ini adalah tentang membangun kepercayaan dan kehadiran yang konsisten. Dengan mengombinasikan riset audiens yang tepat, visual yang menarik, dan cerita yang kuat, brand Anda tidak hanya akan dikenal, tetapi juga diingat oleh pelanggan.

Baca Juga : Strategi Jualan Online untuk UMKM yang Baru Mulai