GETI Dorong Skill Digital untuk Karier Profesional

Tangerang, 12 Juni 2026 — GETI mendorong penguatan skill digital untuk mendukung karier profesional di tengah perubahan kebutuhan industri yang semakin cepat dan kompetitif.

Penguasaan teknologi kini menjadi kebutuhan dasar bagi tenaga kerja di berbagai sektor. Karena itu, kemampuan digital tidak lagi terbatas pada profesi teknologi informasi, tetapi juga dibutuhkan dalam administrasi, pemasaran, operasional, layanan pelanggan, hingga pengelolaan bisnis.

GETI menilai peningkatan skill digital perlu dilakukan secara terarah agar tenaga kerja mampu mengikuti perkembangan dunia kerja. Selain itu, pelatihan yang praktis dapat membantu peserta memahami penggunaan teknologi sesuai kebutuhan industri.

Baca juga: GETI Siapkan Talenta Kerja Lewat Pelatihan Online Baru

Skill Digital Jadi Kebutuhan Kerja

Skill digital mencakup kemampuan menggunakan perangkat kerja berbasis teknologi, mengelola data sederhana, memahami pemasaran digital, serta memanfaatkan aplikasi produktivitas. Dengan kemampuan tersebut, tenaga kerja dapat bekerja lebih efisien dan adaptif.

Dalam dunia profesional, kemampuan digital juga berperan dalam meningkatkan daya saing individu. Oleh karena itu, pekerja yang mampu mengikuti perkembangan teknologi memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dalam kariernya.

GETI mendorong peserta pelatihan untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan digital dalam pekerjaan sehari-hari. Pendekatan ini penting agar pelatihan memberikan dampak nyata bagi kesiapan kerja.

Baca juga: GETI Hadirkan Pelatihan Praktis bagi Calon Profesional

Pelatihan Berbasis Kebutuhan Industri

Melalui program pelatihan, GETI berupaya membantu peserta membangun kompetensi yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Materi yang diberikan diarahkan pada keterampilan praktis, sehingga peserta dapat lebih siap menghadapi tuntutan kerja modern.

Selain itu, pelatihan digital juga membantu peserta memahami cara berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengelola pekerjaan secara lebih sistematis. Hal ini menjadi nilai tambah, terutama bagi calon tenaga kerja yang ingin masuk ke dunia profesional.

Ke depan, kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan skill digital diperkirakan terus meningkat. Karena itu, GETI menilai penguatan kompetensi digital menjadi langkah penting untuk menciptakan SDM yang siap bersaing, produktif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan industri.

GETI: Pelatihan Digital Marketing untuk Karier Profesional

Tangerang, 19 Mei 2026 — GETI: Pelatihan Digital Marketing untuk Karier Profesional menjadi program penguatan keterampilan bagi calon pekerja dan pelaku usaha.

Program ini berfokus pada kemampuan merancang konten, membaca data kampanye, dan memahami perilaku konsumen digital. Dengan demikian, peserta tidak hanya mengenal kanal promosi, tetapi juga proses kerja pemasaran.

Kebutuhan pelatihan meningkat karena aktivitas ekonomi makin bergeser ke ruang digital. Selain itu, perusahaan membutuhkan talenta yang mampu mengelola pemasaran berbasis data.

Baca juga: Pembuatan Konten Digital Tingkatkan Branding UMKM

Digitalisasi Membuka Kebutuhan Baru

Badan Pusat Statistik melalui Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023 mencatat perkembangan internet dari sisi penyelenggara dan pengguna. Data tersebut menunjukkan akses digital telah menjadi bagian penting dalam aktivitas masyarakat.

Sementara itu, laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menempatkan ekonomi digital Asia Tenggara dalam fase pertumbuhan. Laporan itu juga menyoroti peran e-commerce sebagai sektor utama kawasan.

Namun, akses internet saja tidak cukup untuk membangun karier digital. Karena itu, pelatihan perlu diarahkan pada keterampilan teknis, strategi kampanye, dan evaluasi performa.

Bagi masyarakat, pelatihan digital marketing dapat membuka jalur kerja yang lebih fleksibel. Artinya, peserta dapat masuk ke bidang pemasaran, penjualan daring, konten, atau pengelolaan media sosial.

Baca juga: Pelatihan Digital: Kunci Utama Perkembangan Karir

Vokasi Digital Perlu Terukur

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Kebijakan ini menekankan penyelarasan kompetensi dengan kebutuhan dunia kerja.

Selain itu, pelatihan yang terstruktur membantu peserta memahami proses kerja industri. Dengan kata lain, materi tidak berhenti pada teori, tetapi diarahkan pada praktik dan bukti hasil.

Dalam konteks GETI, pelatihan digital marketing dapat menjadi bekal sebelum peserta mengambil sertifikasi kompetensi. Kemudian, portofolio kampanye dapat digunakan untuk menunjukkan kemampuan secara lebih konkret.

Konkretnya, peserta perlu memahami target audiens, pesan promosi, kalender konten, metrik iklan, dan pelaporan sederhana. Keterampilan ini membantu proses kerja pemasaran berjalan lebih tertib.

Ke depan, kebutuhan profesional pemasaran digital diperkirakan tetap mengikuti pertumbuhan platform dan transaksi daring. Oleh sebab itu, pelatihan berbasis kompetensi menjadi fondasi penting bagi karier yang lebih adaptif.

Edukasi Skill Digital untuk Karier Lebih Kompetitif

Tangerang, 18 Mei 2026 — Edukasi Skill Digital untuk Karier yang Lebih Kompetitif menjadi kebutuhan penting bagi pekerja, pelajar, dan pelaku usaha.

Program edukasi ini berfokus pada kemampuan menggunakan perangkat digital, membaca data, membuat konten, dan memahami keamanan dasar. Dengan demikian, peserta memiliki bekal kerja yang lebih relevan.

Kebutuhan tersebut meningkat karena hampir semua sektor memakai teknologi. Selain itu, proses rekrutmen kini makin memperhatikan kemampuan adaptasi digital, ketelitian data, dan komunikasi daring.

Baca juga: Penggunaan Aplikasi ERP untuk Efisiensi Bisnis UMKM

Akses Internet Dorong Kebutuhan Skill

Badan Pusat Statistik dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Data itu berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional.

Sementara itu, laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menyebut ekonomi digital ASEAN terus berkembang. Laporan itu menempatkan kawasan ini dalam fase menuju ekonomi digital bernilai besar.

Namun, akses internet tidak otomatis menghasilkan produktivitas. Karena itu, edukasi skill digital perlu mengajarkan cara kerja yang praktis, aman, dan terukur.

Bagi masyarakat, kemampuan digital dapat memperluas pilihan karier. Artinya, seseorang bisa masuk ke bidang administrasi digital, pemasaran, layanan pelanggan, konten, atau operasional bisnis.

Baca juga: Mengubah Viewer Menjadi Pembeli Setia dengan Konten Soft-Selling

Vokasi Digital Butuh Ukuran Jelas

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Kebijakan ini menekankan penyelarasan kompetensi dengan kebutuhan dunia kerja.

Selain itu, pelatihan digital perlu disusun berdasarkan hasil yang dapat diperiksa. Dengan kata lain, peserta tidak cukup hanya mengikuti kelas, tetapi harus menghasilkan bukti kemampuan.

Dalam praktiknya, edukasi skill digital dapat mencakup pengolahan dokumen, analisis sederhana, komunikasi daring, dan etika penggunaan platform. Kemudian, hasil belajar perlu diarahkan menjadi portofolio kerja yang mudah ditinjau pemberi kerja.

Pada saat yang sama, lembaga pelatihan perlu menjaga kurikulum tetap relevan. Materi harus mengikuti perubahan platform, kebutuhan industri, dan standar asesmen.

Ke depan, kebutuhan karier akan makin dipengaruhi otomatisasi, data, dan layanan berbasis platform. Oleh sebab itu, edukasi skill digital menjadi fondasi penting agar tenaga kerja lebih kompetitif.

Career Switch Strategi Beralih Karier dengan Skill Digital

Tangerang, 20 April 2026 – Career switch strategi beralih karier dengan skill digital menjadi tren di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja. Perkembangan teknologi mendorong banyak individu beralih ke bidang yang lebih relevan dengan ekonomi digital.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, struktur tenaga kerja di Indonesia terus berubah seiring meningkatnya penggunaan teknologi di berbagai sektor. Selain itu, laporan Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan masih menjadi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga: Pencari Kerja Siap Bersaing dengan Skill Digital yang Tepat

Secara global, berbagai publikasi World Bank menekankan pentingnya pengembangan keterampilan untuk mendukung mobilitas tenaga kerja. Perkembangan ekonomi digital juga mendorong munculnya jenis pekerjaan baru yang membutuhkan kompetensi berbasis teknologi.

Dalam proses career switch, penguasaan skill digital menjadi bekal utama. Keterampilan yang dibutuhkan antara lain penggunaan tools kerja seperti spreadsheet dan platform kolaborasi, pemasaran digital, serta pengolahan data sederhana untuk mendukung pengambilan keputusan.

Selain itu, kemampuan membuat konten digital, memahami media sosial, serta penggunaan tools desain dasar juga menjadi nilai tambah. Keterampilan ini banyak dibutuhkan di berbagai industri, termasuk pemasaran, bisnis, dan layanan digital.

Di sisi lain, penyusunan portofolio menjadi faktor penting dalam proses peralihan karier. Portofolio dapat berupa proyek, pengalaman magang, atau hasil kerja yang relevan dengan bidang yang dituju.

Peralihan karier memberikan dampak pada fleksibilitas tenaga kerja. Individu yang memiliki keterampilan digital cenderung lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri.

Baca Juga: Cara Gen Z 2026 Mengatur Batasan Kerja di Era Metaverse dan Hybrid

Pemerintah Indonesia melalui berbagai program telah mendorong peningkatan literasi digital dan pelatihan vokasi untuk mendukung kesiapan tenaga kerja.

Ke depan, tren career switch diperkirakan terus meningkat. Berdasarkan laporan resmi sejumlah lembaga, penguasaan skill digital menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan peralihan karier di era modern.

Fresh Graduate Siap Kerja Bekal Penting Masuk Dunia Kerja

Fresh graduate siap kerja menjadi perhatian di tengah perubahan kebutuhan industri yang semakin dinamis. Bekal penting masuk dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga keterampilan tambahan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah angkatan kerja dari lulusan pendidikan tinggi terus meningkat setiap tahun. Namun, laporan Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, terutama dalam keterampilan praktis dan digital.

Baca Juga: Mahasiswa Siap Kerja: Strategi Upskill yang Efektif

Dalam menghadapi persaingan kerja, fresh graduate siap kerja juga perlu menyiapkan dokumen pendukung seperti CV yang terstruktur, portofolio, serta profil profesional di platform digital. Selain itu, kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar menjadi faktor penting dalam mengikuti perkembangan industri.

Sejumlah bekal penting yang perlu disiapkan fresh graduate antara lain keterampilan digital seperti penguasaan tools kerja dan platform online, kemampuan komunikasi dan kerja tim, serta pengalaman praktik melalui magang atau proyek nyata. Selain itu, kemampuan problem solving, manajemen waktu, serta pemahaman dasar mengenai industri yang dituju juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesiapan kerja.

Peningkatan kompetensi tersebut memberikan dampak terhadap kesiapan individu dalam memasuki dunia kerja. Lulusan yang memiliki keterampilan relevan cenderung lebih mudah beradaptasi dan memenuhi kebutuhan industri.

Pemerintah Indonesia melalui berbagai kebijakan telah mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia, termasuk program pelatihan vokasi dan sertifikasi kompetensi. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital.

Baca Juga: Cara Menarik Ribuan Penonton Saat Jualan Online di TikTok Shop

Ke depan, kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan teknologi diperkirakan terus meningkat. Berdasarkan laporan resmi sejumlah lembaga, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Pentingnya Upgrade Skill di Era Digital Saat Ini

Tangerang, 10 April 2026 — Pentingnya upgrade skill di era digital semakin krusial saat ini. Perubahan teknologi berlangsung cepat dan berdampak langsung pada kebutuhan kompetensi di dunia kerja.

Perkembangan teknologi digital mendorong transformasi di berbagai sektor. Akibatnya, pekerjaan yang bersifat rutin mulai tergantikan oleh sistem otomatisasi. Oleh karena itu, tenaga kerja dituntut terus meningkatkan keterampilan agar tetap relevan.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa struktur ketenagakerjaan mengalami perubahan seiring pertumbuhan sektor digital. Dengan demikian, kebutuhan skill baru pun terus meningkat.

Baca juga: Menemukan Ruang Belajar Soft Skill di Balik Layar CapCut

Perubahan Kebutuhan Skill dan Dunia Kerja

Upgrade skill menjadi penting karena industri kini membutuhkan kombinasi keterampilan teknis dan nonteknis. Namun, tidak semua tenaga kerja siap menghadapi perubahan ini. Keterbatasan akses pelatihan menjadi hambatan utama.

Di sisi lain, laporan World Bank menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan berkontribusi terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, investasi pada pengembangan SDM menjadi prioritas utama.

Selain itu, laporan Google-Temasek tentang ekonomi digital Asia Tenggara menegaskan bahwa permintaan talenta digital terus meningkat. Peningkatan ini terutama terjadi di bidang teknologi dan pemasaran digital. Sementara itu, kemampuan seperti analisis data, komunikasi, dan adaptasi teknologi semakin penting. Pekerjaan masa depan menuntut fleksibilitas yang tinggi.

Baca juga: Bangun Kompetensi dari Nol untuk Masuk Dunia Kerja

Dampak dan Strategi Pengembangan SDM

Upgrade skill memberikan dampak langsung terhadap peluang karier. Individu dengan keterampilan terbaru lebih mudah beradaptasi dengan perubahan industri. Selain itu, peningkatan skill membuka peluang untuk berpindah sektor pekerjaan.

Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui berbagai program pelatihan vokasi dan digital. Program ini bertujuan menyesuaikan keterampilan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Di sisi lain, perusahaan juga mulai berinvestasi dalam pelatihan karyawan. Hasilnya, produktivitas dapat meningkat secara berkelanjutan. Sementara itu, kolaborasi antara sektor pendidikan dan industri menjadi bagian penting dari strategi penguatan SDM.

Ke depan, tren global menunjukkan bahwa kemampuan belajar dan beradaptasi akan menjadi kompetensi utama. Oleh karena itu, upgrade skill bukan lagi sekadar pilihan. Melainkan, ini sudah menjadi kebutuhan dasar dalam menghadapi dinamika dunia kerja digital.