GETI Dorong Skill Digital untuk Karier Profesional

Tangerang, 12 Juni 2026 — GETI mendorong penguatan skill digital untuk mendukung karier profesional di tengah perubahan kebutuhan industri yang semakin cepat dan kompetitif.

Penguasaan teknologi kini menjadi kebutuhan dasar bagi tenaga kerja di berbagai sektor. Karena itu, kemampuan digital tidak lagi terbatas pada profesi teknologi informasi, tetapi juga dibutuhkan dalam administrasi, pemasaran, operasional, layanan pelanggan, hingga pengelolaan bisnis.

GETI menilai peningkatan skill digital perlu dilakukan secara terarah agar tenaga kerja mampu mengikuti perkembangan dunia kerja. Selain itu, pelatihan yang praktis dapat membantu peserta memahami penggunaan teknologi sesuai kebutuhan industri.

Baca juga: GETI Siapkan Talenta Kerja Lewat Pelatihan Online Baru

Skill Digital Jadi Kebutuhan Kerja

Skill digital mencakup kemampuan menggunakan perangkat kerja berbasis teknologi, mengelola data sederhana, memahami pemasaran digital, serta memanfaatkan aplikasi produktivitas. Dengan kemampuan tersebut, tenaga kerja dapat bekerja lebih efisien dan adaptif.

Dalam dunia profesional, kemampuan digital juga berperan dalam meningkatkan daya saing individu. Oleh karena itu, pekerja yang mampu mengikuti perkembangan teknologi memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dalam kariernya.

GETI mendorong peserta pelatihan untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan digital dalam pekerjaan sehari-hari. Pendekatan ini penting agar pelatihan memberikan dampak nyata bagi kesiapan kerja.

Baca juga: GETI Hadirkan Pelatihan Praktis bagi Calon Profesional

Pelatihan Berbasis Kebutuhan Industri

Melalui program pelatihan, GETI berupaya membantu peserta membangun kompetensi yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Materi yang diberikan diarahkan pada keterampilan praktis, sehingga peserta dapat lebih siap menghadapi tuntutan kerja modern.

Selain itu, pelatihan digital juga membantu peserta memahami cara berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengelola pekerjaan secara lebih sistematis. Hal ini menjadi nilai tambah, terutama bagi calon tenaga kerja yang ingin masuk ke dunia profesional.

Ke depan, kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan skill digital diperkirakan terus meningkat. Karena itu, GETI menilai penguatan kompetensi digital menjadi langkah penting untuk menciptakan SDM yang siap bersaing, produktif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan industri.

GETI Bantu SDM Indonesia Siap Hadapi Tantangan Kerja

Tangerang, 9 Juni 2026 — GETI membantu SDM Indonesia lebih siap menghadapi tantangan kerja melalui penguatan kompetensi, pelatihan terarah, dan pemahaman kebutuhan industri yang terus berubah.

Dunia kerja bergerak cepat. Perusahaan kini membutuhkan tenaga kerja yang bukan hanya paham teori, tetapi juga mampu bekerja adaptif, disiplin, dan siap mengikuti perubahan teknologi. Karena itu, pengembangan SDM tidak bisa lagi dilakukan asal ikut pelatihan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan penduduk bekerja di Indonesia pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,68 persen. Angka ini menunjukkan pasar kerja tetap besar, tetapi kompetisi antarpekerja juga makin ketat.

Penguatan Kompetensi Jadi Kebutuhan Utama

GETI mendorong peserta pelatihan untuk memahami kompetensi kerja secara lebih praktis. Materi tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk teori. Peserta juga perlu dilatih membaca masalah, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan menjalankan tugas sesuai standar kerja.

Baca juga: GETI Jadi Solusi Pelatihan untuk Kebutuhan Industri

Selain itu, tantangan kerja saat ini makin dekat dengan transformasi digital. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 mencatat bahwa 39 persen keterampilan utama di pasar kerja diperkirakan berubah pada 2030. Artinya, pekerja perlu terus belajar agar tidak tertinggal.

Dalam konteks ini, pelatihan berperan sebagai jembatan. Peserta dapat memperbarui kemampuan, memperkuat kepercayaan diri, dan memahami ekspektasi industri. Namun, pelatihan tetap harus relevan dengan kebutuhan lapangan. Kalau tidak, hasilnya hanya ramai di sertifikat, sepi di performa.

Siapkan SDM yang Lebih Adaptif

GETI menempatkan pengembangan SDM sebagai proses berkelanjutan. Peserta perlu dibantu agar mampu menilai kemampuan diri, memperbaiki kekurangan, dan membangun kebiasaan kerja yang profesional. Ini bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan dasar bagi tenaga kerja modern.

Baca juga: GETI Kembangkan Kompetensi Lewat Program Terapan Kerja

Langkah ini penting karena industri membutuhkan tenaga kerja yang siap bergerak. Kemampuan teknis tetap penting. Namun, sikap kerja, komunikasi, tanggung jawab, dan kemauan belajar menjadi pembeda utama.

Dengan pendekatan pelatihan yang lebih terarah, GETI berupaya mendukung SDM Indonesia agar lebih siap bersaing. Pada akhirnya, kesiapan kerja bukan hanya soal mencari pekerjaan, tetapi juga soal bertahan, berkembang, dan memberi nilai nyata di tempat kerja.

GETI Kembangkan Kompetensi Lewat Program Terapan Kerja

Tangerang, 8 Juni 2026 — GETI mengembangkan kompetensi lewat program terapan kerja untuk membantu peserta memahami kebutuhan industri secara lebih praktis.

Kebutuhan peningkatan kompetensi semakin besar. Dunia kerja bergerak cepat, sementara perusahaan membutuhkan SDM yang tidak hanya paham teori. Mereka juga perlu tenaga kerja yang mampu menerapkan keterampilan dalam situasi nyata.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,68 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar kerja tetap membutuhkan kesiapan kompetensi yang kuat.

Baca juga : GETI Tingkatkan Kualitas SDM Melalui Pelatihan Kerja

Program Terapan untuk Kebutuhan Industri

Melalui program terapan kerja, GETI mendorong pembelajaran yang lebih dekat dengan aktivitas profesional. Peserta tidak hanya menerima materi. Namun, mereka juga diarahkan untuk memahami alur kerja, menyelesaikan tugas, dan membangun kebiasaan kerja yang sesuai kebutuhan industri.

Pendekatan ini penting karena kompetensi tidak cukup dibentuk lewat penjelasan di kelas. Peserta perlu latihan, studi kasus, simulasi, dan evaluasi kerja. Dengan begitu, hasil pelatihan menjadi lebih konkret.

Selain itu, program terapan membantu peserta mengenali standar kerja sejak awal. Mereka dapat memahami cara berkomunikasi, mengatur waktu, membaca instruksi, dan menyelesaikan pekerjaan secara bertanggung jawab. Hal ini membuat proses belajar lebih relevan dengan kondisi lapangan.

Dorong SDM Lebih Siap Bekerja

Penguatan kompetensi juga sejalan dengan arah pelatihan vokasi nasional. Pemerintah menekankan konsep link and match agar pelatihan memiliki keterkaitan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Baca juga : GETI Jadi Solusi Pelatihan untuk Kebutuhan Industri

Bagi peserta, program terapan memberi ruang untuk membangun kepercayaan diri. Mereka dapat mengetahui kemampuan yang sudah dikuasai dan bagian yang masih perlu diperbaiki. Karena itu, proses pembelajaran menjadi lebih terarah.

Bagi dunia usaha, SDM yang terbiasa dengan pendekatan terapan akan lebih mudah beradaptasi. Mereka tidak mulai dari nol saat masuk ke lingkungan kerja. Sebaliknya, mereka sudah memiliki gambaran tentang ritme, standar, dan tanggung jawab pekerjaan.

Melalui program ini, GETI berupaya mendukung pengembangan SDM yang lebih siap kerja. Langkah tersebut penting agar peserta tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya secara profesional.

Softskill Kerja: Tingkatkan Kepercayaan Diri dan Karir Anda

Tangerang, 06 Juni 2026 – Pengembangan Softskill Kerja kini menjadi prioritas utama bagi angkatan kerja di Indonesia. Selain itu, aspek ini krusial untuk meningkatkan kepercayaan diri serta prospek karir di masa depan. Oleh karena itu, individu mulai fokus pada kompetensi non-teknis agar tetap relevan di pasar kerja.

Baca Juga – Kenapa Sertifikat Kompetensi BNSP Penting untuk Kariermu?

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran terbuka didominasi lulusan pendidikan formal. Hal ini menunjukkan adanya ketidakcocokan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri saat ini. Oleh sebab itu, penguatan keterampilan interpersonal menjadi solusi strategis untuk menjembatani kesenjangan talenta.

Selanjutnya, laporan dari World Bank menyoroti pentingnya keterampilan abad ke-21 dalam menghadapi otomatisasi global. Keterampilan seperti komunikasi dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk mempertahankan daya saing ekonomi nasional. Akibatnya, pekerja dengan kemampuan adaptasi tinggi cenderung memiliki stabilitas pendapatan yang lebih baik.

Dampak penguasaan keterampilan ini secara langsung memengaruhi produktivitas masyarakat secara luas. Dengan kepercayaan diri yang kuat, individu mampu berkontribusi lebih maksimal dalam lingkungan profesional. Jadi, masyarakat yang kompeten secara sosial akan mendorong terciptanya ekosistem kerja yang lebih sehat.

Pemerintah melalui kementerian terkait terus mendorong pelatihan vokasi yang mencakup pengembangan karakter. Kebijakan ini diimplementasikan melalui berbagai program pelatihan nasional guna mencetak SDM unggul. Selain itu, regulasi tersebut menitikberatkan pada standar kompetensi yang diakui secara nasional bagi pekerja.

Tren pasar kerja masa depan menunjukkan bahwa keahlian teknis saja tidak lagi cukup. Maka dari itu, investasi pada pengembangan Softskill Kerja adalah langkah bijak bagi pencari kerja. Akhirnya, sinergi antara edukasi dan industri akan mewujudkan visi besar Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja.

Lapangan kerja yang berkualitas serta berkelanjutan sangat penting bagi semua lapisan masyarakat di masa mendatang.  Pembangunan fondasi talenta yang tangguh akan menjamin keberlangsungan bisnis nasional secara optimal dalam jangka panjang ke depan. Inovasi tiada henti menjadi kunci bagi suksesnya transformasi pasar tenaga kerja Indonesia.

GETI Jadi Solusi Pelatihan untuk Kebutuhan Industri

Tangerang, 6 Juni 2026 — GETI hadir sebagai solusi pelatihan bagi tenaga kerja dan pelaku usaha yang ingin menyesuaikan kemampuan dengan kebutuhan industri.

Perubahan dunia kerja berjalan cepat. Karena itu, pelatihan tidak bisa lagi disusun secara asal. Materi harus relevan, praktis, dan dekat dengan kebutuhan lapangan. Selain itu, peserta perlu memahami standar kerja yang benar sejak awal.

BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen. Sementara itu, penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. Data ini menunjukkan pasar kerja tetap besar, tetapi kualitas kompetensi masih perlu diperkuat.

Pelatihan Harus Dekat dengan Dunia Kerja

GETI menempatkan pelatihan sebagai proses peningkatan kompetensi yang praktis, bukan sekadar kegiatan kelas. Peserta perlu memahami apa yang harus dikerjakan, bagaimana standar kerjanya, dan hasil seperti apa yang diharapkan oleh industri.

Baca juga: GETI Tingkatkan Kualitas SDM Melalui Pelatihan Kerja

Pendekatan ini penting karena kebutuhan perusahaan semakin spesifik. Industri membutuhkan SDM yang tidak hanya paham konsep, tetapi juga mampu menjalankan tugas sesuai standar, bekerja efektif, dan cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi maupun pola kerja. Dalam konteks ini, pelatihan menjadi jembatan antara potensi peserta dan kebutuhan pasar.

Kemnaker menjelaskan bahwa SKKNI digunakan untuk merancang dan mengimplementasikan pelatihan kerja, melakukan asesmen keluaran pelatihan, serta menilai keterampilan dan keahlian seseorang. Artinya, pelatihan berbasis kompetensi memiliki dasar yang jelas dan dapat diukur.

Solusi untuk Pengembangan Kompetensi

Melalui program pelatihan yang terarah, GETI dapat membantu peserta memetakan kemampuan, memperbaiki kekurangan, dan menyiapkan diri menghadapi tuntutan kerja. Pola ini juga membantu pelaku usaha dalam meningkatkan kapasitas tim secara lebih sistematis.

Baca juga: GETI Dorong Pelatihan Kerja Berbasis Kebutuhan Industri

Selain itu, pelatihan yang disusun sesuai kebutuhan industri dapat memperkecil jarak antara kemampuan peserta dan tuntutan pekerjaan. Ini penting, terutama bagi sektor yang bergerak cepat dan membutuhkan tenaga kerja siap pakai.

Dengan demikian, GETI tidak hanya hadir sebagai penyedia pelatihan. Lebih dari itu, GETI berperan sebagai mitra pengembangan SDM agar kompetensi tenaga kerja semakin relevan, adaptif, dan siap menjawab tantangan industri.

GETI Tingkatkan Kualitas SDM Melalui Pelatihan Kerja

Tangerang, 5 Juni 2026 — GETI meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan kerja yang dirancang untuk membantu peserta memiliki keterampilan lebih relevan dengan kebutuhan industri.

Pelatihan kerja menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan pasar tenaga kerja. Badan Pusat Statistik mencatat penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,68 persen. Data ini menunjukkan bahwa persaingan kerja tetap menuntut tenaga kerja memiliki kemampuan yang jelas dan terukur.

Baca juga: GETI Bantu Tingkatkan Kompetensi SDM Siap Kerja

Pelatihan Jadi Kebutuhan Utama

Kualitas SDM tidak bisa hanya bertumpu pada pendidikan formal. Selain itu, dunia kerja membutuhkan tenaga yang mampu mengikuti teknologi, memahami proses bisnis, dan bekerja sesuai standar industri.

Karena itu, pelatihan kerja memiliki peran strategis. Peserta dapat meningkatkan keterampilan teknis, memperbaiki sikap kerja, dan memahami praktik kerja yang dibutuhkan perusahaan.

Pemerintah juga terus mendorong pelatihan vokasi. Pada 2026, Kementerian Ketenagakerjaan menyiapkan Program Pelatihan Vokasi Nasional dengan target puluhan ribu peserta. Program ini diarahkan untuk memperkuat kompetensi, produktivitas, disiplin, dan etos kerja.

GETI Perkuat Arah Pengembangan SDM

Dalam konteks tersebut, GETI hadir sebagai lembaga pelatihan yang berfokus pada peningkatan kapasitas SDM. Program pelatihan disusun agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan dalam pekerjaan.

Baca juga: GETI Dorong Pelatihan Kerja Berbasis Kebutuhan Industri

LSP P1 LPK GETI sendiri tercatat sebagai bagian dari ekosistem pelatihan dan sertifikasi kompetensi. BNSP mencantumkan LPK Global Edukasi Talenta Inkubator sebagai LSP Pihak Kesatu dengan sejumlah skema sertifikasi, seperti Penjualan Daring, Perdagangan Ekspor, Administrasi Logistik Ekspor, dan Pemasaran Daring. (BNSP)

Dengan pelatihan yang tepat, peserta memiliki bekal untuk memasuki dunia kerja secara lebih siap. Selain itu, perusahaan juga diuntungkan karena mendapatkan SDM yang lebih adaptif dan produktif.

Pelatihan kerja bukan lagi pelengkap. Pelatihan menjadi fondasi penting agar tenaga kerja tidak hanya sibuk mencari peluang, tetapi juga siap ketika peluang itu datang.

GETI Dorong Pelatihan Kerja Berbasis Kebutuhan Industri

Tangerang, 4 Juni 2026 — GETI mendorong pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri agar peserta memiliki keterampilan yang lebih relevan, aplikatif, dan siap digunakan di lingkungan kerja nyata.

Kebutuhan pelatihan kerja terus berubah. Industri tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang memahami teori. Perusahaan juga membutuhkan SDM yang mampu bekerja cepat, adaptif, dan terbiasa menyelesaikan persoalan teknis di lapangan.

Badan Pusat Statistik mencatat penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,68 persen. Data ini menunjukkan bahwa pasar kerja besar, tetapi persaingan kompetensi tetap ketat.

Baca juga: GETI Perkuat Kualitas SDM Lewat Pelatihan Terapan

Pelatihan Harus Dekat dengan Dunia Kerja

Pelatihan kerja yang efektif perlu dirancang berdasarkan kebutuhan industri. Artinya, materi tidak boleh terlalu umum. Kurikulum harus disusun dari kebutuhan jabatan, aktivitas kerja, alat yang digunakan, serta standar kompetensi yang berlaku.

Melalui pendekatan tersebut, peserta dapat memahami proses kerja secara lebih konkret. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga berlatih menerapkan keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Kementerian Ketenagakerjaan juga terus mendorong penguatan pelatihan vokasi. Pada April 2026, Kemnaker menyebut penyiapan SDM dilakukan melalui sinergi hulu hingga hilir dan link and match dengan kebutuhan industri. Pemerintah juga menyiapkan 60 ribu kuota pelatihan untuk mendukung kawasan ekonomi khusus.

GETI Fokus pada Kesiapan Kompetensi

GETI menempatkan pelatihan sebagai bagian penting dalam membangun kesiapan kerja peserta. Karena itu, program pelatihan perlu diarahkan pada keterampilan praktis, pemahaman proses kerja, dan pembentukan sikap profesional.

Baca juga: GETI Bantu Tingkatkan Kompetensi SDM Siap Kerja

Selain itu, pelatihan berbasis kebutuhan industri membantu peserta mengenali standar kerja sejak awal. Hal ini penting agar lulusan pelatihan tidak kaget saat masuk ke dunia kerja. Mereka sudah memiliki gambaran tentang target kerja, alur tugas, komunikasi, dan kualitas hasil yang diharapkan.

Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan belajar biasa. Pelatihan menjadi jembatan antara kemampuan peserta dan kebutuhan perusahaan.

Ke depan, GETI diharapkan terus memperkuat program pelatihan yang responsif terhadap perubahan industri. Dengan begitu, peserta dapat memiliki bekal yang lebih kuat untuk bersaing, berkembang, dan menjadi tenaga kerja profesional yang benar-benar siap pakai.

GETI Bantu Tingkatkan Kompetensi SDM Siap Kerja

Tangerang, 3 Juni 2026 — GETI membantu meningkatkan kompetensi SDM siap kerja melalui program pelatihan terapan yang diarahkan agar peserta memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja sesuai kebutuhan industri.

Kesiapan kerja kini tidak cukup hanya dibuktikan dengan ijazah atau pengalaman umum. Dunia usaha membutuhkan tenaga kerja yang mampu menunjukkan kompetensi secara lebih jelas, terukur, dan relevan dengan bidang pekerjaan yang dituju.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka tercatat sebesar 4,68 persen. Kondisi ini menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi agar SDM mampu bersaing di pasar kerja.

Pelatihan yang Lebih Terarah

GETI menempatkan pelatihan sebagai bagian dari proses penguatan SDM sebelum memasuki dunia kerja. Materi pembelajaran disusun agar peserta memahami kebutuhan pekerjaan, alur kerja, standar industri, serta kemampuan teknis yang dapat langsung diterapkan.

Baca juga : GETI Perkuat Kualitas SDM Lewat Pelatihan Terapan

Pendekatan ini penting karena banyak peserta pelatihan membutuhkan arahan yang praktis. Mereka tidak hanya perlu memahami teori. Mereka juga perlu terbiasa dengan simulasi kerja, studi kasus, evaluasi keterampilan, dan pembiasaan sikap profesional.

Dengan pola tersebut, peserta memiliki gambaran lebih utuh tentang kompetensi yang harus dikuasai. Selain itu, pelatihan membantu peserta menilai kesiapan diri sebelum mengikuti proses sertifikasi atau masuk ke lingkungan kerja.

Mendorong SDM Siap Bersaing

Badan Nasional Sertifikasi Profesi menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi kerja dilaksanakan untuk menjamin mutu kompetensi dan pengakuan tenaga kerja pada berbagai sektor profesi. Dalam ekosistem tersebut, pelatihan berperan sebagai fondasi penting sebelum kompetensi peserta dinilai melalui asesmen.

Baca juga : GETI Hadirkan Program Pelatihan untuk Dunia Industri

GETI berupaya memperkuat hubungan antara pelatihan, kebutuhan industri, dan sertifikasi kompetensi. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh materi belajar. Mereka juga mendapatkan arah pengembangan kemampuan yang lebih sistematis.

Ke depan, kebutuhan terhadap SDM siap kerja akan terus meningkat. Karena itu, pelatihan yang terarah menjadi modal penting agar tenaga kerja mampu beradaptasi, meningkatkan daya saing, dan mengambil peluang kerja secara lebih percaya diri.

GETI Hadirkan Program Pelatihan untuk Dunia Industri

Tangerang, 29 Mei 2026 — GETI hadirkan program pelatihan untuk dunia industri guna membantu tenaga kerja meningkatkan kompetensi secara lebih terarah.

Kebutuhan peningkatan kompetensi kini semakin mendesak. Badan Pusat Statistik mencatat penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di level 4,68 persen. Data ini menunjukkan pasar kerja tetap bergerak. Namun, persaingan kemampuan juga semakin ketat di banyak sektor.

Karena itu, pelatihan berbasis kebutuhan industri menjadi semakin penting. Kementerian Ketenagakerjaan pada 2026 juga mendorong pelatihan vokasi nasional. Targetnya mencapai 70.000 peserta. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan kerja dan daya saing tenaga kerja.

Baca juga : Pemasaran Digital: Tips Belajar Dan Sertifikasi Di GETI

Pelatihan yang Dekat dengan Kebutuhan Kerja

GETI mengembangkan program pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan kerja, digitalisasi bisnis, ekspor, kewirausahaan, pengembangan UMKM, social commerce, hingga pendampingan strategis. Situs resmi GETI menyebutkan bahwa program tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pekerjaan, bisnis, dan pengembangan karier.

Pendekatan ini penting karena industri membutuhkan sumber daya manusia yang tidak berhenti pada pemahaman konsep. Peserta perlu dibekali kemampuan teknis, pola pikir kerja, dan pemahaman proses agar lebih siap menghadapi target, standar layanan, serta perubahan teknologi.

Baca juga : GETI Jadi Mitra Pengembangan Kompetensi Profesional

Mendorong SDM Lebih Siap Bersaing

Program pelatihan yang tepat dapat membantu peserta memperkuat posisi di dunia kerja. Bagi pekerja aktif, pelatihan dapat menjadi jalan untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas peluang karier. Bagi pencari kerja, pelatihan memberi bekal praktis sebelum masuk ke industri.

GETI juga relevan bagi pelaku usaha dan UMKM yang perlu meningkatkan kemampuan bisnis, pemasaran, ekspor, dan pemanfaatan kanal digital. Dengan pendampingan yang lebih aplikatif, peserta dapat memahami kebutuhan pasar secara lebih realistis dan tidak hanya mengandalkan intuisi.

Di tengah perubahan industri yang cepat, pelatihan tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap. Pelatihan menjadi kebutuhan dasar agar tenaga kerja dan pelaku usaha tidak sekadar ikut arus, tetapi mampu bergerak lebih siap, lebih terarah, dan lebih kompetitif.

GETI Jadi Mitra Pengembangan Kompetensi Profesional

Tangerang, 28 Mei 2026 — GETI menjadi mitra pengembangan kompetensi profesional bagi individu, pelaku usaha, dan tenaga kerja yang ingin meningkatkan kesiapan menghadapi kebutuhan industri modern.

Kebutuhan terhadap tenaga kerja kompeten terus meningkat seiring perubahan dunia usaha. Perusahaan tidak lagi hanya melihat pengalaman kerja, tetapi juga kemampuan yang dapat dibuktikan melalui pelatihan, pendampingan, dan sertifikasi kompetensi.

GETI menempatkan diri sebagai lembaga yang mendukung peningkatan kapasitas tersebut. Melalui program pengembangan keterampilan, peserta diarahkan untuk memahami kebutuhan kerja, meningkatkan kepercayaan diri, dan membangun kompetensi yang relevan dengan dunia profesional.

Baca juga: GETI Siapkan SDM Kompeten untuk Tantangan Industri

Dukungan untuk Kesiapan Kerja

GETI memiliki program pengembangan SDM dan kesiapan kerja yang ditujukan untuk membantu peserta lebih siap bersaing secara profesional. Program ini mencakup penguatan kompetensi individu, pelatihan future skills, serta pendampingan yang menyesuaikan kebutuhan pasar kerja.

Pendekatan tersebut penting karena kompetensi tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Peserta perlu mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi kerja nyata. Dengan begitu, proses pembelajaran menjadi lebih praktis dan tidak berhenti pada materi kelas.

Selain itu, ekosistem GETI juga berkaitan dengan sertifikasi dan penguatan kompetensi. Dalam konteks ini, sertifikasi dapat menjadi bukti pengakuan atas kemampuan seseorang sesuai skema yang diujikan.

Baca juga: GETI Bantu Pelaku Usaha Naik Kelas Lewat Pelatihan

Mitra bagi Profesional dan Pelaku Usaha

Peran GETI tidak hanya relevan bagi pencari kerja. Pelaku usaha juga membutuhkan peningkatan kapasitas, terutama dalam aspek digitalisasi, pemasaran, legalitas, dan kesiapan ekspor.

Melalui inkubasi dan pendampingan UMKM, GETI membantu pelaku usaha memahami langkah pengembangan bisnis yang lebih terarah. Hal ini membuat proses peningkatan kompetensi tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada pertumbuhan usaha.

Di sisi lain, sertifikasi kompetensi memiliki posisi penting dalam sistem ketenagakerjaan. Badan Nasional Sertifikasi Profesi menjelaskan bahwa sertifikasi bertujuan memberikan pengakuan terhadap kompetensi seseorang. BNSP juga berperan sebagai lembaga independen yang melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja di Indonesia.

Karena itu, keberadaan GETI sebagai mitra pengembangan kompetensi profesional menjadi relevan. Peserta dan pelaku usaha membutuhkan proses belajar yang praktis, terarah, dan dapat mendukung daya saing. Dengan penguatan kompetensi yang konsisten, profesional dapat lebih siap masuk industri, naik kelas, dan menghadapi perubahan pasar kerja yang makin cepat.