Tangerang, 4 Juni 2026 — GETI mendorong pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri agar peserta memiliki keterampilan yang lebih relevan, aplikatif, dan siap digunakan di lingkungan kerja nyata.
Kebutuhan pelatihan kerja terus berubah. Industri tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang memahami teori. Perusahaan juga membutuhkan SDM yang mampu bekerja cepat, adaptif, dan terbiasa menyelesaikan persoalan teknis di lapangan.
Badan Pusat Statistik mencatat penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,68 persen. Data ini menunjukkan bahwa pasar kerja besar, tetapi persaingan kompetensi tetap ketat.
Baca juga: GETI Perkuat Kualitas SDM Lewat Pelatihan Terapan
Pelatihan Harus Dekat dengan Dunia Kerja
Pelatihan kerja yang efektif perlu dirancang berdasarkan kebutuhan industri. Artinya, materi tidak boleh terlalu umum. Kurikulum harus disusun dari kebutuhan jabatan, aktivitas kerja, alat yang digunakan, serta standar kompetensi yang berlaku.
Melalui pendekatan tersebut, peserta dapat memahami proses kerja secara lebih konkret. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga berlatih menerapkan keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Kementerian Ketenagakerjaan juga terus mendorong penguatan pelatihan vokasi. Pada April 2026, Kemnaker menyebut penyiapan SDM dilakukan melalui sinergi hulu hingga hilir dan link and match dengan kebutuhan industri. Pemerintah juga menyiapkan 60 ribu kuota pelatihan untuk mendukung kawasan ekonomi khusus.
GETI Fokus pada Kesiapan Kompetensi
GETI menempatkan pelatihan sebagai bagian penting dalam membangun kesiapan kerja peserta. Karena itu, program pelatihan perlu diarahkan pada keterampilan praktis, pemahaman proses kerja, dan pembentukan sikap profesional.
Baca juga: GETI Bantu Tingkatkan Kompetensi SDM Siap Kerja
Selain itu, pelatihan berbasis kebutuhan industri membantu peserta mengenali standar kerja sejak awal. Hal ini penting agar lulusan pelatihan tidak kaget saat masuk ke dunia kerja. Mereka sudah memiliki gambaran tentang target kerja, alur tugas, komunikasi, dan kualitas hasil yang diharapkan.
Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan belajar biasa. Pelatihan menjadi jembatan antara kemampuan peserta dan kebutuhan perusahaan.
Ke depan, GETI diharapkan terus memperkuat program pelatihan yang responsif terhadap perubahan industri. Dengan begitu, peserta dapat memiliki bekal yang lebih kuat untuk bersaing, berkembang, dan menjadi tenaga kerja profesional yang benar-benar siap pakai.



